Kompaspemburukasus.com, Kabupaten Sintang, – Kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, menimbulkan berbagai hambatan bagi masyarakat, terutama warga yang tinggal di daerah pedalaman dan wilayah penghujung aliran Sungai Melawi serta Sungai Ambalau.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas perekonomian masyarakat, tetapi juga menghambat akses transportasi dan pelayanan kesehatan warga.
Kecamatan Ambalau memiliki wilayah yang akses transportasinya masih banyak mengandalkan jalur sungai. Sungai Melawi dan Sungai Ambalau menjadi jalur utama bagi masyarakat untuk mengangkut barang maupun melakukan perjalanan antardesa dan menuju pusat kecamatan.
Namun, ketika musim kemarau berlangsung dalam waktu yang cukup lama, debit air sungai mengalami penurunan. Kondisi ini menyebabkan perjalanan melalui jalur sungai menjadi semakin sulit, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan terisolasi.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh Media Kompas Pemburu Kasus, warga yang bermukim di wilayah penghujung aliran sungai mengeluhkan kondisi tersebut. Mereka mengaku akses transportasi menjadi salah satu persoalan utama yang harus dihadapi selama musim kemarau.
Selain sulitnya akses transportasi, masyarakat juga menghadapi kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan sulitnya distribusi barang akibat terganggunya jalur transportasi sungai.
“Selain sulitnya akses transportasi, kami juga menghadapi kenaikan harga bahan pokok. Aktivitas masyarakat menjadi semakin sulit karena jalur sungai merupakan akses utama kami,” ungkap salah seorang warga.
Kondisi kemarau juga berdampak terhadap aktivitas sebagian masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas di sekitar jalur sungai. Para motoris dan pelaku usaha angkutan sungai disebut tidak dapat beraktivitas seperti biasanya karena kondisi sungai yang mengalami penyusutan debit air.
Pada kondisi normal atau saat air sungai cukup tinggi, perjalanan dari desa-desa di wilayah penghujung menuju pusat Kecamatan Ambalau dapat ditempuh sekitar dua hingga tiga jam menggunakan perahu bermesin atau klotok.
Namun, saat kemarau panjang, waktu perjalanan dapat meningkat secara signifikan. Perjalanan yang biasanya hanya membutuhkan beberapa jam bahkan dapat memakan waktu hingga satu hari atau lebih, tergantung kondisi jalur sungai.
Di tengah persoalan transportasi tersebut, persoalan kesehatan juga menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah desa di wilayah Kecamatan Ambalau dilaporkan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap tenaga medis dan pelayanan kesehatan.
Kondisi ini menjadi persoalan serius, terutama ketika ada warga yang mengalami sakit dan membutuhkan penanganan medis secara cepat. Masyarakat dari desa-desa yang berada jauh dari pusat kecamatan harus menghadapi perjalanan yang tidak mudah untuk mendapatkan pertolongan.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut, khususnya dalam memastikan tersedianya pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat di wilayah terpencil.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat juga berharap pihak rumah sakit dan instansi kesehatan di Kecamatan Ambalau dapat mempertimbangkan penempatan tenaga medis di desa-desa yang lokasinya lebih mudah dijangkau oleh masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah terisolasi.
Keluhan kesehatan yang kerap dikhawatirkan masyarakat selama musim kemarau, seperti gangguan pernapasan, diare, dan keluhan kesehatan lainnya, dinilai membutuhkan perhatian serta kesiapsiagaan dari pemerintah dan tenaga kesehatan.
Masyarakat berharap persoalan transportasi, distribusi kebutuhan pokok, serta pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman tidak hanya menjadi perhatian ketika kondisi darurat terjadi.
Akses pelayanan dasar merupakan kebutuhan penting bagi seluruh masyarakat, termasuk warga yang tinggal di daerah terpencil.
Kesehatan adalah hak dasar setiap orang yang harus menjadi perhatian dan diprioritaskan.

